Pakai Kamera HP untuk Webcam

Minggu kemarin saya selesai merakit PC baru untuk kebutuhan WFH. Sayangnya, karena keterbatasan budget, saya melewatkan webcam dalam daftar pembelian part. Padahal part satu ini cukup kruisial ketika pak bos minta open cam saat meeting.

Ketika browsing Tokopedia untuk webcam yang bagus, agak kaget juga melihat range harga yang cukup bervariasi; dari 200-ribuan sampai 1 jutaan untuk webcam yang ber-resolusi 1080p dengan kualitas gambar yang OK. Hati ini bimbang antara mendahulukan kualitas atau memprioritaskan kemampuan kantong. Hmmmm…

Lanjutkan membaca Pakai Kamera HP untuk Webcam

Jalan Panjang Upgrade T480

Awal 2023, karena laptop lawas X230 dipakai istri dan sering bermasalah di sensor kipasnya, saya memutuskan membeli laptop second. Dengan alasan build quality dan feel keyboard yang superior, saya memilih meminang Thinkpad lagi, hanya berbeda generasi. Pilihan jatuh pada T480 yang berdasar hitung-hitungan masih affordable dan cukup bertenaga.

Lanjutkan membaca Jalan Panjang Upgrade T480

Merokok

Draft lawas ini ditulis 2014, dipublikasikan 5 tahun kemudian.

Bulan kemarin, masih ada kursi di Smoking Room terminal B1 Bandara Soekarno Hatta. Hari ini kursinya hilang entah kemana. Beberapa orang memilih berdiri, saya dan beberapa yang lain lebih memilih jongkok atau lesehan. Meski dengan posisi ini kaki jadi agak manis, sampai2 terasa kesemutan.

Fasilitas Smoking Room di Terminal ini memang agak anu. Pintu masuk tidak bisa (?) ditutup. Ketika perokok berkumpul, asap beracun sering mengepul ke luar. Apalagi di dalam, sudah mirip pawon di rumah saya saat saya masak air di sore hari. Tapi ini tak menghalangi perokok bermulut pahit untuk berkumpul, ngobrol sambil membakar rupiah.

Lanjutkan membaca Merokok

Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian

Masih saja anu kalau baca ini. ._.

avatar tukang klipingKumpulan Cerpen Kompas

Langit jadi merah. Seekor naga menukik, menyapu bintang-bintang dan matahari. Pucuk-pucuk sayapnya memercik bara. Api bertebaran. Angin berputing. Ketakutan disemprotkan ke udara seperti tinta gurita. Para satria berbaju zirah itu bergelimpangan. Jerit putus asa menyesaki ruang. Makhluk itu marah luar biasa. Rumah-rumah, pohon-pohon, pucuk gunung di kejauhan, jadi remuk tak jelas bentuk. Rata tanah. Semua. Kecuali satu anak yang berdiri tegak tak bergerak. Tangannya menggenggam busur yang selesai teregang. Wajahnya segelap batu, namun matanya seterang kilat. Dari busurnyalah panah besar yang menghunjam di dada sang naga.

Naga itu pasti akan mati, Ibu, bisiknya. Lalu matanya terpejam. Mungkin tertidur. Atau mencoba tidur. Gambar di atas kertas besar itu kini didekap di dadanya. Gambar yang sesak dengan coretan dan garis tebal patah-patah yang diguratkan penuh emosi. Gambar yang cuma punya tiga warna: merah, hitam, dan kelabu.

Lihat pos aslinya 1.674 kata lagi