H-11

Minggu ini, aku belajar mencintai meski hanya sekejap.
Karena cinta adalah bahasa asing yang selalu bisa difahami, meski tak sering bisa diucap.
Seperti hujan yang kadang jatuh tapi tak meresap,
tak mampir hanya mengalir.

Minggu depan, aku belajar mencintai selamanya.
Yang satu dan sekali, seumur hidup sampai tua.

Sudah itu saja, tidak ada kata romantis.
Karena katanya
kalau sudah punya tanggungan harus pragmatis

Señor

Software Architect, pangkatku.
Jabatan yang luar biasa
Kalau rubuh karyaku
Akankah aku dipenjara?
Aku software engineer ngawur
Berkarya tanpa komposisi.
Aku membangun rel sepur
untuk sepeda dan lari pagi.
Aku lelah,
Panggil aku tukang ketik saja
tak perlu titel aneh-aneh.
Aku cuma ingin berkarya
tanpa aturan-aturan nyeleneh.

Dasawarsa

Menuju sepuluh, mengingat kenangan
Menengok kemana jalan membawa kita.
Dari satu, pertama.
Dimana kisah kita bermula.
Satu lembar kertas berpuluh kata satu makna.
Hasrat untuk berdua.
Karena dua itu genap, genap itu lengkap,
meski lengkap tak pasti sempurna.
Dua enam Oktober, 
dua insan satu tujuan tercapai juga.
Tiga pintamu kala itu:
dekat senyum, 
buang marah, 
jauh asap tembakau laknat.
Bukan marah bukan salah,
tapi kasih yang membuatku selalu ingat
Sebab kasih itu seyogyanya sejalan seirama.
Setuju setujuan, bersama bahagia.
Empat tak penting,
abaikan saja karena cinta itu psikologi, bukan statistika.
Lima kota memisah, enam tahun terpisah; toh kita biasa saja.
Tak ada wacana pecah, tak ada pertanda bubrah.
Tujuh kali aku mampir ke rumahmu, 
sekedar bertemu dan ngobrol di kursi.
Andai pertama tak tersesat, harusnya jadi delapan.
Jarang memang, karena meteran tak bisa dikorupsi.
Dan tanggalan tak selalu menjadi teman.
Mungkin kau lupa, atau mungkin tak peduli.
Sembilan, hampir sepuluh tahun lalu
kita bertemu untuk pertama kali.
Kemudian canda, cerita, dan teman
membawa kita ke hari Jumat yang cerahnya terasa berbeda,
Hari saat kau katakan iya.