Menuju sepuluh, mengingat kenangan Menengok kemana jalan membawa kita.
Dari satu, pertama. Dimana kisah kita bermula. Satu lembar kertas berpuluh kata satu makna. Hasrat untuk berdua.
Karena dua itu genap, genap itu lengkap, meski lengkap tak pasti sempurna. Dua enam Oktober, dua insan satu tujuan tercapai juga.
Tiga pintamu kala itu: dekat senyum, buang marah, jauh asap tembakau laknat.
Bukan marah bukan salah, tapi kasih yang membuatku selalu ingat
Sebab kasih itu seyogyanya sejalan seirama. Setuju setujuan, bersama bahagia.
Empat tak penting, abaikan saja karena cinta itu psikologi, bukan statistika. Lima kota memisah, enam tahun terpisah; toh kita biasa saja. Tak ada wacana pecah, tak ada pertanda bubrah.
Tujuh kali aku mampir ke rumahmu, sekedar bertemu dan ngobrol di kursi. Andai pertama tak tersesat, harusnya jadi delapan. Jarang memang, karena meteran tak bisa dikorupsi. Dan tanggalan tak selalu menjadi teman.
Mungkin kau lupa, atau mungkin tak peduli. Sembilan, hampir sepuluh tahun lalu kita bertemu untuk pertama kali. Kemudian canda, cerita, dan teman membawa kita ke hari Jumat yang cerahnya terasa berbeda,
Hari saat kau katakan iya.
